Kamis, 23 September 2021

Pustaka Tentang Fotografi: (Unggah-Ungguh) Atawe Etika dalam Fotografi (Tulisan Episode Ketiga)



Pustaka kali ini akan membahas secara singkat, tentang catatan ringkas dan pendek dari seorang (yang bukan) fotografer, mengenai penjabaran super singkat, tentang beberapa etika aatau "unggah-ungguh" yang harus dimiliki oleh fotografer pemula (seperti saya) maupun fotografer kawakan, yang rasa-rasanya, harus alias wajib diterapkan dalam dunia fotografi. Dan artikel tersebut tertuang dalam tulisan yang sangat menarik berjudul: "(Unggah-Ungguh) Atawe Etika dalam Fotografi (Tulisan Episode Ketiga)". Dan berikut ini adalah artikel singkatnya:

Kalau sebelumnya, kesalahan yang dibahas adalah "Mood" dan "Kemampuan komunikasi dengan target jepretan", maka kali ini yang akan dibahas adalah etika jeprat-jepret berupa "Bagi-bagi hasil jepretan!" dan "Kemampuan komunikasi dengan target jepretan". Dan ini adalah penjabarannya:

Bagi-bagi hasil jepretan!

Saya yakin, ini sering terjadi, dimana Sobat kehabisan model, dan akhirnya maksa-maksa temen untuk jadi modelnya.  Pertimbangannya, selain gratis kita juga gampang berkomunikasi dengannya untuk memperoleh hasil jepretan yang kita inginkan. Hal yang acap terjadi adalah, jika kita memfoto model yang gratisan (teman atawe kenalan) kita sering lupa berbagi hasil foto dengan si momod tadi. Padahal, dengan memberikan hasil jepretan kita, itu adalah bentuk rasa terimakasih kita padanya yang sudah susah payah berpose menjadi model. 

Juga berlaku jika Sobat saat memotret dengan tema human interest atau street photograph. Jangan terlalu pelit. Misal, kalau Sobat memotret ibu-ibu penjual sayur seperti kasus diatas, belilah barang yang dia jual sedikit saja meskipun Sobat tidak memerlukannya. Jangan asal jeprat-jepret lalu sobat berlalu begitu saja, ndak sopan Sob. Sekedar sapa, lalu belilah dagangannya barang sedikit, lalu sambung cerita-cerita, lalu ajukan pertanyaan, apakah dia bersedia untuk dipotret atau tidak. Kalua dia bersedia dipotret, maka langsung saja dijepret. Kalau dia tidak bersedia, yah, paling tidak, sobat kan sudah belanja, jadi bisa masak dan bikin food photography!

Demikianlah artikel singkat ini. Untuk uraian yang lebih lengkap, dapat disimak di sini.

(artikel ini telah tayang di laman trisoenoe.com dengan judul asli: "(Unggah-Ungguh) Atawe Etika dalam Fotografi (Tulisan Episode Ketiga)").

Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Silahkan baca-baca berbagai artikel menarik di laman:

Sumber: 

Tag: 
#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA, #Covid-19, #Corona Virus, #Isolasi Mandiri, #Pendemi Covid-19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar